Lumpur Lapindo
Nurul Hidayati (kelas V SD Renokenongo I)
Dan juga banyak orang setres memikirkan rumahnya. Sesungguhnya ini kehendak yang Maha Kuasa aku bersabar menghadapi segala cobaan. Meskipun aku tinggal. Di pengungsian. Aku tidak pernah putus asa. Dan aku harus semangat demia sekolah dan demi cita-citaku. Dan saya pun rela tinggal disana walaupun htiku sangat sedih dan kecewa. Apa boleh buat saya tinggal dipasar. Saya tidur pun tidak nyaman banyak nyamuknya. Dan mandinya aja antri. Dan aku ada dirumah saya yang dulu aja bahagia.
HACURNYA HIDUPKU
Sungguh senang sekali hidup ku di masa yang lalu. Penuh tertawa, ceria, dan gembira. Tapi tiba-tiba perasaanku mengatakan? Dimana rumahku tempat aku dibesarkan hilang dalam sekejap saja? Tiada hujan, tiada petir datanglah lumpur saawh-sawah, ruimah, pohon, toko,itulah yag dihancurkan oleh lumpur. Kini hidup keluargaku sengsara dia tidak punya tempat tinggal untuk di tinggali. Tapi akusadar aku tidak akan berakhir disini karena aku masih punya kehidupan yang panjang.
Hari demi hari kujalani untuk mencari tempat tinggal. Akhirnya aku mendapatkan tempat tinggal yaitu : Pasar Baru Porong. Kini hidupku merana, aku kehilangan teman yang aku butuhkan diwaktu seidh/sudah. Tapi sekarang aku sudah tidak punya tempat tinggal lagi atau rumah, karena rumahku sudah dihancurkan oleh lumpur. Aku juga kehilangan nenek yang aku butuhkan diwaktu kecil. Ya Tuhan kembalikanlah rumahku seperti dulu lagi Ya Tuhan, karena tempatnya sempit nyamuknya banyak dan aku tidak bisa tidur.
Tapi gak papa aku akan selaluk semangat dan selalu belajar lebih giat lagi untuk sekolah dan aku dapat mencapai cita-cita yangaku inginkan. Tapi saya akan tetap minta ganti rugi oleh pemerintah?
Aku tidak ingin berbuat kasar kepada orang tua Cuma gara-gara tinggal di pasar baru porong. Dan orang tuaku akan terus mencarikan nafkah hanya untuk anak-anaknya dan keluarga. Tapis ekarang keluargaku ingin hidup rukun seperti aku masih punya rumah.
KARYA CIPTA
Nama : FITRIYAH NINGSIH
Kelas : V (
Sekolah : SD RENOKENONGO I
Alamat : Reno/Pasar baru Blok P.8
GEDUNG SEKOLAHKU YANG TERENDAM
IDA MAULIDA (Kelas 6 MI Ma'ari Jatirejo)
Tapi alhamdulillah saat itu Jatirejo belum tenggelam jadi, aku dan teman-teman masih bisa sekolah seperti biasa, hanya saja kita tidak konsentrasi karena pada saat pelajaran kita selalu saja mencium bau lumpur yang tak sedap.
Teman-temanku banyak yang mengungsi, tapi ada juga yang tidak mengungsi karena rumahnya belum tenggelam, teman-temanku kalau sekolah naik kendaraan dari pengungsian, mereka sangat sedih karena mereka harus tinggal di pengungsian yang kumuh, bau dan kotor.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, lumpur mulai meluber terus menerus, air lumpur pun makin bertambah banyak dan pada akhirnya menenggelamkan Jatirejo, sekolahku pun juga tenggelam aku dan teman-teman sangat sedih karena kita sudah tidak bisa sekolah di Jatirejo lagi, dan sejak lumpur itu menenggelamkan Jatirejo dan gedung sekolah, teman-teman banyak yang pindah dari sekolah. Aku merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan teman-teman.
Sekarang murid-murid dikelasku hanya tinggal tujuh, rasanya, sepi sekali tanpa teman-teman yang lainnya, andai saja dulu tidak ada lumpur panas Lapindo pasti aku tidak akan kesepian tanpa teman-teman yang sudah pindah, aku merasa sangat kecewa karena harus kehilangan banyak teman, padahal dulu temanku sangat banyak sekarang malah cumah tujuh.
Sekarang aku sekolah di Posko Gus Dur (Pasar Baru Porong) aku sangat kecewa sekali, aku kira aku akan mendapat tempat seperti yang di Jatidejo, tapi ternyata aku akan dapat tempat yang suasanya sangat bising, tapi aku masih tetap bersyukur karena Allah masih memberikan aku tempat untuk menimba ilmu, walaupun tidak selayak seperti yang ada di Jatirejo. Di sini aku dan teman-teman menunggu kapan kita akan mendapat gedung sekolah baru, dengan fasilitas yang lengkap seperti di Jatirejo.
Beberapa tahun lamanya aku menunggu kapan akan seperti dulu lagi, berkumpul dengan teman-teman yang sudah lama pindah dari sekolah, aku sangat merindukan teman-temanku yang dulu, tapi apa mereka juga merindukanku? Aku sangat kecewa pada orang yang telah merusak kebahagiaan serta ketentraman kami, tapi tak apalah kita harus bersabar menghadapi cobaan dari Allah, mungkin suatu saat nanti Allah akan memberikan jalan kebahagiaan pada kami yang terkena musibah ini.
Tapi aku masih belum rela pada mereka (PT. Lapindo) yang serakah dan ceroboh itu, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan mudah-mudahan mereka (PT. Lapindo) cepat mengganti rugi sekolahku yang sudah hilang.
Tapi saat sekian lama aku merasa kesepian, sekarang aku sudah tak pernah merasakannya lagi, karena sekarang aku berada di Pesantren yang bisa menghiburku, di pesantren itu aku merasa hari-hariku berwarna dan lebih berarti, tapi meskipun begitu, aku tetap merindukan teman-teman yang sudah lama pergi dari sisiku, setiap hari aku selalu berharap pada Allah SWT supaya aku dapat berkumpul dengan semua teman yang sudah lama sekali jauh dariku, agar kita dapat selalu bersama dan kita dapat menjalani persahabatan atau pertemanan yang abadi, dan satu hal lagi yang aku harapkan yaitu semoga Allah selalu memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga aku beserta teman-temanku dapat meraih cita-cita demi bekal masa depan yang cerah dan bahagia, dengan prestasi sekolah yang baik, serta ilmu yang bermanfaat agar suatu saat nanti aku beserta teman-temanku dapat mengamalkan ilmu itu kepada orang-orang yang membutuhkan.
SI BUTA DAN SI BONGKOK
Konon pada zaman dahulu ada dua orang cacat, yang seorang bongkok dan yang seorang bermata buta. Mereka sangat akab. Kemanapun pergi mereka selalu bersama. Di samping itu mereka juga saling membantu dalam segala hal.
“Hai bongkok kita pergi ke pasar”, ajak si Buta
“Ayo, aku tidak kebeatan”, jawab si Bongkok “Kamu mau beli apa di pasar?”
“aku mau beli barang keperluan sehari-hari”
“Kamu lagi banyak duit ya?”
“Tidak kebetulan saja kemarin aku diberi uang oleh saudaraku”
“Barapa banyak?”
‘Coba htung, ini uangnya!”
Si Bongkok menghitung uang si Buta, setelah dihitung ternyata jumlah uang si Buta cukup banyak
“Wah, uangmu cukup banyak, akan kamu belanjakan apa uangmu itu?” tanya si bongkok
“Aku ingin beli beras dan daging” jawab si Buta
“Hebatsekali kamu membeli daging!”
“Ya, sekali-kali kita makan daging, itu pun kalau unagku cukup”
“O, tentu cukup”
Pada esok hari, ketika mentari mulai bersinar, si buta dan si Bongkok berangkat ke pasar, sepanjang jalan, dengan hati-hati
Si Bongkok menuntun si Buta sampai di Pasar
Si Bongkok lalu membeli beas berbagai kilogarm
Setelah itu Ia menuntun si Buta ke Kios daging dan membeli setengah kilogram daging
“Uangmu masih sisaw”, kata si Bongkok
“Berapa duit?”Jawab si Bua. “Ya lumayan banyak, kamu akan belikan apa lagi?”
“Kalau masih cukup, belikan telor dan kerupuk”.
“Wah , uang mu hnaya cukup untuk beli telor saja”.
”ya belikan saja telor sehingga kita tidak pergi-pergi lagi ke pasar.”
“Kalau begitu maumu, uangmu akan ku belanjakan setengah kilkogram telor” setelah itu mereka bergegas pulang. Sampainya di rumah, merekadengan semangat memasak nasi dan daging. Tidak lama kemudian nasi dan daging pun matang.
“Kalau sudah matang, ayo kita makan”, ajak si Buta, si Buta mengambil sepiring nasi dan sepotong daging. Begitu pula si Bongkok mengikuti mengambil sepiring nasi dan sepotong daging mereka lalu makan bersama . si Buta makan dengan lahap. Tetapi daging yang ia makan amat keras, berkali-kali ia kunyah, daging itu tidak hancur. Ia lalu menelan daging itu dan menyangkut di tenggorokan.
KARYA CIPTA
Nama : WELMI DIAJENG NATALIA
Kelas : III (Tiga)
Sekolah : SDN Kesambi
Alamat : ……………………
Perjuangan Paguyuban Pasar Baru Porong Di
Dian Utami (SMPN 3 Porong)
Beda Rumah Dan Tempat Pengungsian
Sayyidatul Kurniati (kelas IV MI Ma'arif Jatirejo)
Di desa saya telah terjadi bencana. Jika, sebelumnya, gempa yang terjadi beberapa saat saja ketika saya mau berangkat sekolah. Sekarang, bencana yang lain lumpur, ketika malam hari, saat saya ingin mencuci muka. Saya mencium bau yang tidak sedap, lalu saya mencari bau dimana itu? ternyata baunya berasal dari air yang ada di kamar mandi. Saya pun mengira, bahwa lumpur telah datang di rumah saya, setelah itu saya tidur kembali.